Pernahkah Anda merasa sangat menikmati mengobrol dan menjadi pusat perhatian di suatu kesempatan, tetapi keesokan harinya justru ingin menghabiskan waktu sendirian tanpa diganggu siapa pun? Jika iya, Anda mungkin pernah bertanya-tanya, "Sebenarnya saya ini introvert atau ekstrovert?"
Jawabannya belum tentu salah satu dari keduanya.
Dalam beberapa tahun terakhir, istilah ambivert semakin sering muncul di media sosial, artikel populer, hingga diskusi psikologi. Banyak orang merasa istilah ini paling menggambarkan dirinya karena tidak sepenuhnya cocok dengan label introvert maupun ekstrovert.
Namun, apakah ambivert benar-benar merupakan tipe kepribadian tersendiri, atau hanya istilah populer yang terdengar menarik?
Riset psikologi menunjukkan bahwa kenyataannya jauh lebih menarik daripada sekadar pembagian dua kubu.
Ambivert Bukan Tipe Kepribadian Baru
Dalam psikologi modern, introversi dan ekstroversi dipandang sebagai sebuah spektrum. Artinya, seseorang tidak harus berada di salah satu ujung. Banyak orang justru berada di tengah-tengah.
Petric (2022) menjelaskan konsep ini dengan sangat sederhana:
Ambiversion is somewhere near the half-way mark between two extremes.
Dengan kata lain, ambivert adalah seseorang yang berada di sekitar titik tengah antara introvert dan ekstrovert.
Inilah yang membuat istilah ambivert terasa begitu dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Seseorang bisa sangat aktif berdiskusi saat rapat kantor, tetapi memilih menikmati kesunyian ketika pulang ke rumah. Ia mampu tampil percaya diri saat presentasi, namun tetap membutuhkan waktu sendiri untuk memulihkan energi.
Perubahan tersebut bukan berarti kepribadiannya tidak konsisten. Justru, itulah karakteristik orang yang berada di tengah spektrum.
Bahkan Orang "di Tengah" Pun Tidak Selalu Sama
Menariknya, gagasan mengenai ambivert sebenarnya bukanlah konsep baru. Penelitian sejak puluhan tahun lalu sudah menunjukkan bahwa orang dengan skor "tengah" pada dimensi introversi-ekstroversi ternyata tidak membentuk satu kelompok yang seragam.
Penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Personality Assessment (1979) menemukan setidaknya dua kelompok berbeda.
Kelompok pertama memiliki kecenderungan introvert dan ekstrovert yang sama-sama kuat sehingga perilakunya sering berubah tergantung situasi. Kelompok kedua benar-benar berada pada tingkat sedang di antara keduanya.
Para peneliti menyimpulkan:
At least two groups are posited in the midrange of the IE dimension: an ambivalent group with mixed strong introversive and extraversive tendencies, and an ambiverted group with midrange scores.
Temuan ini menunjukkan bahwa bahkan orang yang sama-sama disebut ambivert belum tentu memiliki pola kepribadian yang identik.
Ambivert Adalah Tentang Fleksibilitas, Bukan Kepribadian Ganda
Sayangnya, di internet istilah ambivert sering disederhanakan menjadi "punya dua kepribadian" atau "kadang introvert, kadang ekstrovert."
Padahal, penjelasan tersebut kurang tepat.
Dari sudut pandang psikologi, ambivert lebih menggambarkan fleksibilitas dalam mengelola energi sosial. Orang ambivert umumnya mampu menyesuaikan perilaku dengan konteks.
Ketika situasi membutuhkan interaksi, mereka dapat berbicara aktif, memimpin diskusi, atau membangun relasi dengan mudah. Namun ketika suasana berubah atau energi mulai habis, mereka juga nyaman menarik diri untuk beristirahat.
Dalam bahasa sederhana, ambivert sering digambarkan sebagai orang yang tahu kapan harus "menyalakan mode sosial" dan kapan waktunya mengisi ulang energi.
Apakah Ambivert Lebih Unggul?
Banyak artikel di internet menyebut ambivert sebagai tipe kepribadian terbaik. Namun, apakah penelitian benar-benar mendukung klaim tersebut?
Salah satu penelitian yang paling terkenal berasal dari Adam Grant (2013). Penelitian terhadap 340 staf outbound call center menemukan hubungan yang menarik antara tingkat ekstroversi dan pendapatan penjualan.
Hasilnya bukan berupa garis lurus, melainkan kurva berbentuk huruf U terbalik.
Dalam abstraknya disebutkan:
A study of 340 outbound-call-center representatives supported the predicted inverted-U-shaped relationship between extraversion and sales revenue.
Artinya, performa penjualan justru paling tinggi pada orang-orang yang berada di tengah spektrum.
Mengapa demikian?
Orang yang terlalu introvert mungkin kurang nyaman memulai percakapan, sedangkan orang yang terlalu ekstrovert kadang lebih banyak berbicara daripada mendengarkan. Ambivert cenderung mampu menyeimbangkan kedua kemampuan tersebut: mereka cukup percaya diri untuk berbicara, tetapi juga cukup sabar untuk mendengarkan kebutuhan lawan bicara.
Meski begitu, hasil ini tidak berarti semua ambivert otomatis menjadi penjual terbaik. Temuan tersebut hanya menunjukkan bahwa dalam situasi tertentu, fleksibilitas sosial dapat menjadi keuntungan.
Apakah Ada Bukti dari Otak?
Beberapa penelitian bahkan mencoba melihat ambiversi dari sisi biologis.
Sebuah studi EEG oleh Georgiev, Christov, dan Philipova (2014) melaporkan bahwa ambiversi berkaitan dengan perbedaan pada komponen N1 dan P3, yaitu gelombang aktivitas otak yang terlibat dalam pemrosesan informasi sensorik dan kognitif.
Penulis menyatakan:
Our data revealed activation differences in sensory and cognitive information processing related to extraversion and the ERP analysis confirmed that the personality characteristic ambiversion influences the N1 and P3 amplitudes of ERP components.
Temuan ini menarik karena menunjukkan bahwa ambiversi mungkin memiliki jejak yang dapat diukur secara biologis.
Namun, penelitian tersebut menggunakan jumlah sampel yang relatif kecil sehingga hasilnya belum cukup kuat untuk dijadikan kesimpulan umum. Dibutuhkan penelitian yang lebih besar untuk memastikan apakah pola tersebut benar-benar konsisten.
Apakah Ambivert Lebih Kebal terhadap Stres?
Jawabannya belum tentu.
Selama pandemi COVID-19, sebuah penelitian terhadap 203 partisipan mencoba melihat hubungan antara tipe kepribadian dengan tingkat kecemasan dan depresi.
Hasilnya menunjukkan bahwa faktor kepribadian tidak memberikan perbedaan yang signifikan terhadap kedua kondisi tersebut.
Ringkasan penelitiannya menyebut:
Personality factors, however, did not show any significant differences in the anxiety and depression scores.
Artinya, menjadi ambivert bukan berarti seseorang otomatis lebih sehat secara mental atau lebih tahan menghadapi tekanan hidup.
Kesehatan mental dipengaruhi oleh banyak faktor lain, seperti dukungan sosial, kondisi ekonomi, pengalaman hidup, hingga kesehatan fisik.
Jadi, Apakah Anda Ambivert?
Tidak ada tes sederhana yang dapat memastikan seseorang adalah ambivert.
Sebab, dalam psikologi, ambiversi lebih dipahami sebagai posisi pada spektrum daripada kategori yang benar-benar terpisah.
Jika Anda kadang menikmati keramaian tetapi juga membutuhkan waktu sendiri untuk memulihkan energi, itu bukanlah kontradiksi. Justru, hal tersebut sangat mungkin merupakan variasi normal dalam cara manusia berinteraksi dengan lingkungannya.
Yang terpenting bukan mencari label, melainkan memahami bagaimana Anda memperoleh energi, menghadapi situasi sosial, dan menjaga keseimbangan diri.
Kesimpulan
Ambivert bukanlah "gabungan" introvert dan ekstrovert, apalagi kepribadian yang paling unggul dibandingkan yang lain. Istilah ini lebih tepat dipahami sebagai posisi di tengah spektrum introversi-ekstroversi, di mana seseorang memiliki kemampuan untuk menyesuaikan perilaku sosial sesuai dengan situasi yang dihadapi.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa fleksibilitas tersebut memang dapat memberikan keuntungan dalam kondisi tertentu, misalnya ketika berkomunikasi atau bekerja sama dengan orang lain. Namun, bukti ilmiah juga mengingatkan bahwa ambivert bukan jaminan kesuksesan, bukan pula pelindung dari stres maupun gangguan mental.
Pada akhirnya, kepribadian manusia jauh lebih kompleks daripada sekadar dua label. Kita semua dapat menjadi lebih pendiam dalam satu situasi dan lebih terbuka dalam situasi lainnya. Mungkin justru di situlah letak keunikan manusia: bukan berada di salah satu ujung spektrum, melainkan mampu menyesuaikan diri dengan berbagai keadaan.