Program Kampung Iklim (ProKlim) adalah program nasional dari Kementerian Lingkungan Hidup yang bertujuan mendorong masyarakat berperan aktif dalam menghadapi perubahan iklim melalui aksi nyata di tingkat desa, kelurahan, atau komunitas.
Sederhananya, ProKlim mengajak warga untuk mengurangi dampak perubahan iklim sekaligus beradaptasi dengan perubahan yang sudah terjadi.
Ada dua fokus utama dalam ProKlim:
Dalam Program Kampung Iklim (ProKlim), adaptasi dan mitigasi merupakan dua pilar utama untuk menghadapi perubahan iklim.
1. Adaptasi
Adaptasi adalah upaya menyesuaikan diri terhadap dampak perubahan iklim agar kerugian dapat dikurangi dan masyarakat tetap mampu beraktivitas.
Contoh kegiatan adaptasi di ProKlim:
Membuat embung, sumur resapan, atau penampungan air hujan untuk mengatasi kekeringan.
Menanam pohon untuk mengurangi suhu dan menjaga sumber air.
Menanam tanaman yang lebih tahan terhadap musim kemarau.
Membangun drainase yang baik untuk mengurangi banjir.
Mengembangkan sistem peringatan dini bencana.
Tujuannya: meningkatkan ketahanan masyarakat terhadap perubahan iklim.
2. Mitigasi
Mitigasi adalah upaya mengurangi penyebab perubahan iklim, terutama dengan menurunkan emisi gas rumah kaca atau meningkatkan penyerapan karbon.
Contoh kegiatan mitigasi di ProKlim:
Menanam dan merawat pohon.
Mengelola sampah dengan prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle).
Membuat kompos dari sampah organik.
Menggunakan energi yang lebih hemat dan ramah lingkungan.
Memanfaatkan energi terbarukan seperti panel surya atau biogas.
Tujuannya: mengurangi emisi gas rumah kaca sehingga laju perubahan iklim dapat ditekan.
Contoh sederhana
Misalnya sebuah desa sering mengalami kekeringan:
Adaptasi: membangun embung, membuat sumur bor, dan menampung air hujan agar tetap tersedia air saat musim kemarau.
Mitigasi: menanam ribuan pohon, mengolah sampah menjadi kompos, dan mengurangi pembakaran sampah agar emisi gas rumah kaca berkurang.
Jadi, adaptasi berfokus pada menghadapi dampak perubahan iklim, sedangkan mitigasi berfokus pada mengurangi penyebab perubahan iklim. Dalam ProKlim, kedua aspek ini harus berjalan bersama agar masyarakat menjadi lebih tangguh sekaligus berkontribusi dalam pengendalian perubahan iklim.
Apa manfaat menjadi Kampung Iklim?
Lingkungan menjadi lebih bersih dan hijau.
Risiko banjir, longsor, atau kekeringan dapat berkurang.
Masyarakat menjadi lebih siap menghadapi cuaca ekstrem.
Berpotensi meningkatkan ekonomi melalui pengelolaan sampah, pertanian, atau wisata lingkungan.
Mendapat pengakuan dan penghargaan dari pemerintah apabila memenuhi kriteria ProKlim.
Siapa yang bisa mengikuti?
Program ini dapat diikuti oleh:
Desa
Kelurahan
RT/RW
Komunitas
Pondok pesantren
Sekolah
Kawasan permukiman atau kelompok masyarakat lainnya yang aktif menjaga lingkungan.
Jadi, nama Kampung Iklim adalah predikat bagi wilayah yang berhasil menerapkan berbagai kegiatan adaptasi dan mitigasi perubahan iklim secara berkelanjutan dengan melibatkan masyarakat.
Program Kampung Iklim (ProKlim) memiliki beberapa tingkat penghargaan berdasarkan capaian aksi adaptasi, mitigasi, dan keberlanjutan kegiatan di tingkat desa atau kelurahan.
Urutannya adalah:
ProKlim Pratama – tingkat awal, diberikan kepada desa/kelurahan yang telah memenuhi persyaratan dasar pelaksanaan ProKlim.
ProKlim Madya – diberikan kepada desa yang telah menjalankan lebih banyak aksi adaptasi dan mitigasi serta melibatkan masyarakat secara aktif.
ProKlim Utama – diberikan kepada desa yang memiliki pelaksanaan ProKlim yang sangat baik, berkelanjutan, dan menjadi contoh bagi wilayah lain.
ProKlim Lestari – tingkat tertinggi. Diberikan kepada desa yang telah mempertahankan dan mengembangkan kegiatan ProKlim secara konsisten selama beberapa tahun, serta mampu membina atau menginspirasi desa lain.
Semakin tinggi tingkatnya, semakin lengkap bukti kegiatan adaptasi dan mitigasi perubahan iklim, semakin kuat kelembagaan masyarakat, serta semakin besar dampak dan keberlanjutan program di desa tersebut
Apakah ada keuntungan dari desa yang memperoleh perhargaan tersebut?
Desa atau kelurahan yang memperoleh penghargaan ProKlim tidak otomatis menerima uang tunai dari pemerintah pusat. Namun, ada banyak manfaat yang bisa diperoleh, baik secara langsung maupun tidak langsung.
Beberapa keuntungan tersebut antara lain:
Mendapat pengakuan resmi dari pemerintah karena keberhasilannya menjalankan aksi adaptasi dan mitigasi perubahan iklim.
Meningkatkan citra desa, sehingga lebih dikenal sebagai desa yang peduli lingkungan dan berkelanjutan.
Lebih mudah memperoleh dukungan program dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, dunia usaha (CSR), maupun lembaga lain. Penghargaan ProKlim sering menjadi nilai tambah saat mengajukan bantuan.
Menjadi desa percontohan, terutama untuk desa dengan tingkat Utama dan Lestari, sehingga sering menjadi lokasi studi banding atau pembelajaran bagi daerah lain.
Meningkatkan kapasitas masyarakat, karena warga memperoleh pelatihan dan pengalaman dalam pengelolaan lingkungan, ketahanan terhadap perubahan iklim, dan pemberdayaan ekonomi.
Mendorong pembangunan desa yang lebih berkelanjutan, misalnya melalui pengelolaan sampah, penghijauan, konservasi air, pertanian ramah lingkungan, dan pengurangan risiko bencana.
Perlu diketahui bahwa setiap kenaikan tingkat (Pratama, Madya, Utama, hingga Lestari) tidak disertai besaran dana penghargaan yang tetap. Namun, desa dengan tingkat yang lebih tinggi umumnya memiliki peluang lebih besar untuk mendapatkan perhatian, pembinaan, dan dukungan dari berbagai pihak karena rekam jejaknya sudah terbukti.
Apa peran dinas lingkungan hidup di kegiatan ProKlim?
Peran Dinas Lingkungan Hidup (DLH) dalam Program Kampung Iklim (ProKlim) sangat penting karena menjadi pembina dan fasilitator agar masyarakat mampu menjalankan aksi adaptasi dan mitigasi perubahan iklim secara berkelanjutan.
Secara umum, tugas DLH meliputi:
Melakukan sosialisasi ProKlim kepada pemerintah desa, kelurahan, kelompok masyarakat, sekolah, dan pihak lainnya agar memahami tujuan serta manfaat ProKlim.
Membina dan mendampingi desa/kelompok ProKlim, mulai dari perencanaan program, pelaksanaan kegiatan, hingga evaluasi.
Membantu mengidentifikasi potensi dan permasalahan lingkungan di desa, misalnya kekeringan, banjir, pengelolaan sampah, penghijauan, atau konservasi sumber air.
Memfasilitasi pelaksanaan kegiatan adaptasi dan mitigasi.
Memberikan pelatihan dan peningkatan kapasitas kepada masyarakat dan kader ProKlim mengenai pengelolaan lingkungan dan perubahan iklim.
Membantu registrasi dan penginputan data ke Sistem Registri Nasional (SRN-PPI), termasuk membimbing desa dalam melengkapi dokumen dan bukti kegiatan.
Melakukan monitoring dan evaluasi terhadap perkembangan kegiatan ProKlim serta memberikan masukan untuk perbaikan.
Mengusulkan lokasi ProKlim untuk mengikuti penilaian nasional setelah memenuhi persyaratan.
Membangun kerja sama dengan OPD lain, dunia usaha, perguruan tinggi, LSM, dan komunitas agar dukungan terhadap ProKlim semakin kuat.
Melaporkan perkembangan ProKlim kepada pemerintah provinsi dan Kementerian Lingkungan Hidup sesuai ketentuan.
Indikator Keberhasilan Program Ini
Keberhasilan Program Kampung Iklim (ProKlim) tidak hanya ditentukan oleh banyaknya kegiatan yang dilakukan, tetapi juga oleh keberlanjutan, partisipasi masyarakat, dan dukungan berbagai pihak. Faktor-faktor utamanya meliputi:
1. Partisipasi aktif masyarakat
Warga terlibat sejak perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi kegiatan.
Ada rasa memiliki terhadap program sehingga kegiatan tetap berjalan meski tanpa bantuan dari luar.
2. Komitmen pemerintah desa dan daerah
Kepala desa/lurah serta pemerintah kabupaten memberikan dukungan berupa kebijakan, anggaran, dan pendampingan.
Dinas Lingkungan Hidup berperan membina, memfasilitasi, dan membantu proses registrasi serta penilaian ProKlim.
3. Kelembagaan yang kuat
Tersedianya kelompok pengelola ProKlim dengan pembagian tugas yang jelas.
Administrasi, dokumentasi, dan pelaporan kegiatan dilakukan secara rutin.
4. Pelaksanaan kegiatan adaptasi dan mitigasi yang nyata
Adaptasi, seperti pengelolaan air, ketahanan pangan, pengurangan risiko bencana, dan kesehatan masyarakat.
Mitigasi, seperti bank sampah, komposting, penghijauan, efisiensi energi, dan penggunaan energi terbarukan.
5. Kolaborasi dengan berbagai pihak
Melibatkan pemerintah, dunia usaha, perguruan tinggi, komunitas, dan lembaga swadaya masyarakat.
Dukungan dapat berupa pendanaan, pelatihan, maupun penyediaan sarana.
6. Keberlanjutan program
Kegiatan tidak berhenti setelah penilaian ProKlim.
Ada regenerasi pengurus dan sumber pendanaan yang berkelanjutan.
7. Dokumentasi dan data yang lengkap
Memiliki bukti kegiatan berupa foto, video, daftar hadir, laporan, serta data hasil yang terdokumentasi dengan baik.
Dokumentasi menjadi salah satu aspek penting dalam proses verifikasi dan penilaian.
8. Dampak yang dapat dirasakan masyarakat
Lingkungan menjadi lebih bersih dan hijau.
Risiko banjir, kekeringan, atau pencemaran berkurang.
Masyarakat memperoleh manfaat ekonomi maupun sosial dari kegiatan ProKlim.
Intinya, keberhasilan ProKlim dapat diringkas dalam tiga kunci utama:
Partisipasi masyarakat yang tinggi.
Dukungan dan pendampingan pemerintah serta para pemangku kepentingan.
Kegiatan adaptasi dan mitigasi yang berkelanjutan dan memberikan manfaat nyata bagi lingkungan maupun masyarakat.