Ada keyakinan yang tampaknya masih sulit dihilangkan dalam sebagian horor Indonesia: jika penonton sudah dibuat meloncat dari kursi tiga atau empat kali, berarti filmnya otomatis menyeramkan. Roy Kiyoshi: The Untold Story tampaknya ikut menganut mazhab tersebut. Bedanya, film ini begitu percaya diri dengan resep lama sampai lupa bahwa rasa takut lahir dari cerita, bukan dari speaker bioskop yang bekerja lembur.
Premis tentang seorang indigo yang hidup berdampingan dengan dunia gaib sebenarnya menyimpan potensi besar. Sayangnya, potensi itu diperlakukan seperti barang pajangan dipamerkan di awal, lalu dibiarkan berdebu sepanjang film.
Premis yang Menarik, tetapi Seperti Hanya Dibaca dari Sinopsis
Film mengikuti perjalanan Roy yang sejak kecil mampu melihat makhluk dari dunia lain. Secara teori, konflik seperti ini bisa berkembang menjadi drama psikologis yang dalam. Bayangkan seseorang yang tidak pernah tahu apakah ia benar-benar melihat hantu atau perlahan kehilangan kewarasannya.
Namun film memilih jalan pintas.
Alih-alih menggali trauma atau pergulatan batin tokohnya, cerita lebih sibuk mengantar penonton dari satu penampakan ke penampakan berikutnya. Rasanya seperti sedang menonton presentasi PowerPoint berisi koleksi hantu: slide berganti cepat, tetapi tidak ada yang benar-benar membekas.
Horor yang Terlalu Percaya Diri pada Suara Keras
Jumpscare bukan musuh horor. Banyak film hebat menggunakannya dengan efektif.
Masalah muncul ketika jumpscare dijadikan fondasi utama cerita.
Di sini, suara keras muncul dengan frekuensi yang nyaris membuatnya terasa seperti alarm pengingat minum air. Hantu belum sempat membangun atmosfer, musik sudah lebih dulu berteriak kepada penonton, "Hei, sekarang kamu harus kaget!"
Ironisnya, film yang terus memaksa penonton kaget justru membuat mereka cepat kebal.
Penyutradaraan yang Sibuk Mengejar Tujuan, tetapi Lupa Menikmati Perjalanan
Film ini memiliki begitu banyak ide: indigo, trauma masa kecil, dunia gaib, keluarga, misteri, hingga pencarian jati diri.
Sayangnya, semua ide itu berdesakan masuk ke dalam cerita tanpa pernah benar-benar diberi ruang bernapas.
Akibatnya, alur bergerak seperti kendaraan yang terlalu sering berpindah jalur. Penonton memang sampai ke garis akhir, tetapi sepanjang perjalanan mereka terus bertanya-tanya mengapa harus berbelok sejauh itu.
Sinematografi yang Berusaha Menolong Cerita
Kalau ada satu aspek yang cukup konsisten, itu adalah usaha visualnya.
Pencahayaan gelap, kabut, dan desain makhluk gaib sesekali berhasil membangun suasana yang mencekam.
Sayangnya, visual bekerja sendirian. Ia seperti pemain terbaik dalam sebuah tim yang harus terus berlari sementara rekan-rekannya masih sibuk mencari posisi.
Akting yang Tidak Pernah Mendapat Kesempatan Bersinar
Menyalahkan aktor sepenuhnya terasa kurang adil.
Bagaimana mungkin karakter bisa berkembang jika naskah sendiri belum memutuskan mereka ingin menjadi siapa?
Roy tampil datar, tetapi karakter yang ia perankan memang ditulis nyaris tanpa lapisan emosi yang cukup. Pemeran lain pun bernasib serupa. Mereka lebih sering menjadi pengantar adegan berikutnya daripada manusia yang memiliki konflik sendiri.
Film yang Bingung Memilih Identitas
Di satu sisi, film ingin menjadi kisah asal-usul Roy Kiyoshi.
Di sisi lain, ia ingin menjadi horor supranatural penuh penampakan.
Sesekali ia juga mencoba menjadi drama keluarga.
Masalahnya, semua identitas itu saling berebut panggung tanpa ada satu pun yang benar-benar menjadi pemeran utama. Hasil akhirnya seperti seseorang yang datang ke pesta memakai tiga kostum sekaligus, berharap semua orang terkesan, padahal yang muncul justru kebingungan.
Kesimpulan
Roy Kiyoshi: The Untold Story bukan film yang kekurangan ide.
Ia justru seperti anak yang membawa terlalu banyak mainan ke sekolah, lalu tidak sempat memainkan satu pun sampai selesai.
Film ini ingin menjadi horor, biografi, drama, sekaligus misteri. Akibatnya, semuanya hadir, tetapi tidak ada yang benar-benar matang.
Yang paling disayangkan, kemampuan melihat dunia lain ternyata tidak diikuti kemampuan melihat kelemahan naskahnya sendiri.
Pada akhirnya, film ini lebih sering membuat kursi bioskop bergetar karena efek suara daripada membuat pikiran penonton terus dihantui setelah lampu studio menyala.
Penilaian
Cerita: 3/10
Skenario: 3,5/10
Penyutradaraan: 3/10
Sinematografi: 5/10
Akting: 2/10
Horor: 3/10
Orisinalitas: 5/10
Nilai Akhir: 3.5/10
Roy Kiyoshi: The Untold Story adalah bukti bahwa premis menarik bisa kehilangan tenaga ketika skenario tidak mampu mengimbanginya. Film ini memiliki cukup banyak bahan untuk menjadi psychological horror yang berkesan, tetapi memilih jalan yang lebih mudah dengan mengandalkan jumpscare dan penampakan berulang.
Pada akhirnya, film ini lebih sering mengejutkan telinga daripada menghantui pikiran. Dan untuk sebuah film horor, itu adalah perbedaan yang cukup besar.