Nama YouTuber Muhammad Jannah alias Bigmo menjadi sorotan publik setelah sebuah potongan siaran langsung yang menampilkan dirinya bersama sejumlah anak di bawah umur viral di media sosial. Konten tersebut memperlihatkan anak-anak ikut menyebut atau mempromosikan sebuah produk liquid vape. Dalam hitungan jam, video itu menyebar ke berbagai platform dan memicu gelombang kritik dari masyarakat.
Namun, jika ditelusuri lebih dalam, viralnya kasus Bigmo bukan hanya disebabkan oleh satu video. Polemik ini berkembang melalui beberapa tahapan yang membuat kemarahan publik semakin besar.
Akar Permasalahan: Anak-anak Masuk ke Promosi Produk Vape
Permasalahan bermula saat Bigmo melakukan siaran langsung di sebuah toko vape. Dalam siaran tersebut, beberapa anak yang berada di lokasi diajak masuk ke dalam kamera dan ikut menyebut atau mempromosikan merek liquid vape.
Di sinilah letak inti persoalannya.
Vape merupakan produk yang mengandung nikotin dan dipasarkan untuk orang dewasa. Ketika anak-anak muncul dalam promosi produk tersebut, banyak pihak menilai tindakan itu tidak pantas karena dapat dianggap menormalisasi produk nikotin di hadapan anak-anak. Kritik pun bermunculan, bukan karena keberadaan vape semata, tetapi karena adanya dugaan pelibatan anak dalam aktivitas promosi. Isu ini kemudian mendapat perhatian dari lembaga perlindungan anak hingga aparat penegak hukum.
Kritik Mulai Berdatangan
Setelah potongan video viral, banyak kreator konten, aktivis, dan masyarakat mulai membahas persoalan tersebut. Salah satu yang paling banyak menarik perhatian adalah kreator Firu Designer, yang membuat video berisi kritik dan edukasi mengenai pentingnya melindungi anak dari promosi produk yang hanya diperuntukkan bagi orang dewasa.
Konten Firu kemudian memperoleh banyak perhatian karena dianggap menjelaskan persoalan dari sisi etika dan tanggung jawab kreator konten.
Respons Bigmo Justru Memperbesar Polemik
Alih-alih meredakan situasi, respons Bigmo justru menjadi babak baru dalam kontroversi ini.
Dalam tanggapannya, Bigmo mengolok Firu dengan menyebutnya "nerd". Ucapan tersebut dianggap banyak warganet sebagai bentuk ejekan terhadap orang yang sedang menyampaikan kritik dan edukasi.
Bagi sebagian publik, persoalan yang awalnya hanya berkaitan dengan video promosi vape berubah menjadi persoalan mengenai sikap seorang kreator dalam menerima kritik. Banyak yang menilai Bigmo lebih memilih menyerang pengkritiknya dibanding membahas substansi persoalan yang dipermasalahkan.
Meskipun penilaian tersebut merupakan opini publik, respons tersebut terbukti membuat diskusi di media sosial semakin meluas.
Mengapa Netizen Semakin Marah?
Ada beberapa alasan yang membuat kemarahan publik terus meningkat.
Pertama, masyarakat menilai anak-anak tidak seharusnya dilibatkan dalam promosi produk yang mengandung nikotin.
Kedua, Bigmo merupakan figur publik dengan jumlah pengikut yang besar sehingga dinilai memiliki tanggung jawab lebih terhadap dampak kontennya.
Ketiga, respons yang dianggap mengejek kritik membuat sebagian netizen merasa Bigmo belum menunjukkan sikap yang cukup serius terhadap persoalan tersebut.
Keempat, konflik antara Bigmo dan Firu membuat isu ini tidak lagi hanya membahas video awal, tetapi berubah menjadi perdebatan yang melibatkan banyak kreator konten.
Akibatnya, algoritma media sosial terus mendorong pembahasan ini menjadi semakin viral.
Berujung ke Ranah Hukum
Seiring meningkatnya perhatian publik, kasus tersebut tidak lagi berhenti di media sosial.
Beberapa pihak melaporkan Bigmo ke Polda Metro Jaya atas dugaan pelibatan anak dalam promosi vape. Di sisi lain, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mengecam dugaan tersebut dan meminta aparat melakukan penyelidikan sesuai ketentuan yang berlaku.
Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) juga meminta platform digital meningkatkan pengawasan terhadap konten yang melibatkan anak dalam promosi produk vape.
Sementara itu, Bigmo telah menyampaikan permintaan maaf kepada publik. Namun, permintaan maaf tersebut tidak otomatis menghentikan proses hukum maupun kritik dari masyarakat.
Pelajaran dari Kasus Ini
Kasus Bigmo menunjukkan bagaimana sebuah konten yang awalnya dianggap biasa dapat berkembang menjadi polemik nasional ketika menyangkut isu perlindungan anak.
Di era media sosial, bukan hanya isi konten yang dinilai publik, tetapi juga bagaimana seorang kreator merespons kritik. Ketika kritik dijawab dengan dialog yang terbuka, polemik mungkin dapat mereda. Sebaliknya, jika respons justru memicu konflik baru, perhatian publik akan semakin besar.
Terlepas dari bagaimana hasil penyelidikan nantinya, kasus ini menjadi pengingat bahwa kreator konten memiliki tanggung jawab yang besar. Popularitas di dunia digital bukan hanya soal jumlah penonton, tetapi juga tentang dampak yang ditimbulkan dari setiap konten yang dipublikasikan.